Menu

Refleksi 12 Tahun Tsunami Aceh: Edukasi Bencana yang Membumi

Eva Bachtiar - 09 January 2017, 23:21

Bencana bukanlah hal seksi untuk dibahas di Indonesia. Terhadap bencana, kita –orang Indonesia, lebih sering diajar untuk 'nrimo' dibanding diajarkan keahlian untuk menghadapinya.

Hal inilah yang menggerakkan saya menggagas StarSide, sebuah komunitas edukasi bencana untuk anak-anak. StarSide sebenarnya adalah ejawantah atas sebuah tanggung jawab moral. Sepulang menimba ilmu kebencanaan di empat negara di Asia, saya melihat satu gap menganga: Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana di dunia (UNISDR, 2010), namun upaya penanggulangan bencana kita masih berpusat di upaya kuratif ketimbang preventif.

 

Belajar dari Tsunami Aceh

Ketika berada di Aceh, saya mendapat kesempatan untuk berbincang langsung dengan para penyintas tsunami 26 Desember 2004, tepat 12 tahun yang lalu. Salah satu hal yang bisa disimpulkan dari cerita mereka adalah rupanya sebagian besar masyarakat Aceh saat itu tidak tahu-menahu tentang tsunami.

Begitu banyak nyawa yang menjadi korban menjadi sebuah harga teramat tinggi yang harus dibayarkan untuk sebuah ketidaktahuan. Jeda waktu setengah jam dari gempa bumi pertama dengan datangnya tsunami, seharusnya dapat digunakan untuk evakuasi dan menyelamatkan diri.

Hal di atas tak perlu dilihat sebagai sebuah tuduhan, tapi jauh dari itu, menunjukkan sebuah gap yang mau tidak mau harus diisi oleh generasi kita saat ini. Faktanya, sebagian masyarakat cenderung menghindar dari pembahasan topik bencana, karena merasa bencana adalah suratan takdir, yang sudah digariskan akan terjadi bagaimana pun kita menghindarinya. Masih ada pula yang beranggapan bahwa bencana adalah sebuah bentuk hukuman dari Tuhan.

Akan tetapi, ada sebuah perbandingan menarik. Tidak jauh dari pulau Aceh, terdapat Pulau Simeuleu. Saat terjadi tsunami tahun 2004, tercatat ‘hanya’ 7 korban jiwa dari Simeuleu. Jauh di bawah Pulau Aceh yang menelan korban lebih dari 150 ribu jiwa.

Rupanya, di Simeuleu pernah terjadi tsunami tahun 1907. Masyarakat Simeuleu lalu berupaya menjaga ingatan generasi di bawahnya dengan menyebarkannya lewat senandung nina-bobok yang disebut dengan smong. Dalam senandung itu mereka menyanyikan syair sederhana tentang pergi ke tempat tinggi jika air bah datang.

Dari fakta tersebut, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, ini menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi bencana dapat membuat perubahan yang signifikan dan menyelematkan banyak nyawa.

Yang kedua, di balik semua edukasi bergaya modern yang banyak dicanangkan, kenyataan menunjukkan bahwa pendekatan bergaya kultural yang respek terhadap adat-istiadat setempat dan dekat dengan budaya masyarakatlah yang pada akhirnya akan langgeng dalam prakteknya. Itu sebabnya penting, kalau tidak bisa dibilang esensial, untuk menempatkan edukasi kesiapsiagaan bencana semembumi mungkin.

Alasan mengapa saya menggarisbawahi hal ini adalah karena terkadang, sebagai orang terpelajar, kita sering mengedepankan aspek-aspek ilmiah, yang berakhir dengan penjelasan-penjelasan yang terlampau ribet bin njelimet. Pendekatan demikian sah-sah saja jika ditempatkan pada waktu dan orang yang semestinya. Tapi jangan sampai, status sebagai orang terpelajar membuat kita malas beradaptasi, malas menggunakan kata-kata sederhana, dan malas berempati. Memaksakan pendekatan yang tidak sesuai toh tidak akan memberi hasil optimal. Bagai menggunting kuku dengan tang, mengikat rambut dengan tambang. Dipaksakan.  

 

Edukasi Bencana Alternatif

Ijinkan saya membawa kabar buruk dan kabar baik. Kabar buruknya: upaya edukasi masyarakat adalah sebuah proses yang panjang, dengan obyek yang begitu luas, keseluruhan entitas masyarakat itu sendiri. Tapi kabar baiknya, hal itu memungkinkan berbagai celah arah instrusi dan aneka rupa gaya pendekatan.

Di Thailand, sekelompok relawan animator membuat tayangan animasi untuk mengedukasi masyarakat tentang banjir dashyat yang terjadi tahun 2011. Di Jepang, NPO Plus Arts mengemas edukasi bencana untuk anak-anak dan orangtuanya lewat acara camping, sebagai jawaban atas jenuhnya mereka terhadap evacuation drill yang monoton. Di Indonesia, kita punya PM Toh yang berkeliling ke penjuru Aceh dengan teater rakyat yang diberi nama TV Eng-Ong, bersenandung dan mendongeng dengan bahasa Aceh untuk menyebarkan informasi, lengkap dengan humor-humor yang memancing gelak tawa.

Orang-orang seperti ini membuat saya sadar, bahwa ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendiseminasi ilmu kesiapsiagaan bencana. Lupakan penyuluhan yang membosankan, teoritis, berbelit-belit, dan susah dipahami. Sesungguhnya edukasi yang membumi adalah sebaik-baiknya pendidikan itu sendiri.

___

 

Telah 12 tahun tsunami Aceh berlalu. Saya masih meyakini bahwa kita bangsa Indonesia masih perlu banyak berbenah dalam upaya edukasi bencana. Kita telah ditakdirkan hidup berdampingan dengan segala resiko bencana, maka meskipun mustahil untuk mengelak dari ancamannya, sudah waktunya untuk berdamai dan membekali diri dengan ilmu dan kesiapsiagaan.

 

 

 

*Penulis adalah fellow HANDs (Hopes and Dreams) Project dari Japan Foundation dan penggagas gerakan edukasi bencana StarSide.

*Ditulis dalam rangka 12 tahun tsunami Aceh.


Komentar