Menu

Generasi Muda Tanggap Bencana

Eva Bachtiar - 10 April 2017, 13:46

Wilayah Indonesia, khususnya Aceh merupakan salah satu wilayah rawan bencana. Namun sayangnya, kesadaran masyarakat mengenai resiko bencana masih sangat minim. Oleh karena itu, edukasi kebencanaan harus giat dilakukan untuk meminimalisir risiko bencana yang bisa datang kapan saja.

Kini beberapa komunitas relawan mulai melakukan edukasi kebencanaan yang fokus pada anak-anak. Salah satunya adalah komunitas StarSide. Kata StarSide adalah anagram dari kata “disaster” -bagaimana mengubah bencana menjadi suatu kesiapan menghadapinya dengan edukasi yang menyenangkan. Harapannya, meskipun kita tidak bisa mengelak dari ancaman dan resiko bencana, kita dapat membekali diri dengan ilmu kesiapan. Kita hanya mencoba berdamai dengan risiko bencana.

Awal Maret lalu, tepatnya tanggal 10-12 Maret 2017, StarSide melakukan kegiatan edukasi kebencanaan di Pidie Jaya, Aceh. Setelah merekrut beberapa orang relawan, kegiatan tersebut dilaksanakan di SD Peulandok Tunong pada tanggal 11 Maret dan di Lapangan Gampong Tampuy di tanggal 12 Maret. Kakak-kakak pendamping diberikan briefing sebelum terjun langsung masuk ke dunia anak-anak di Pidie Jaya. Beberapa kegiatan menyenangkan dilakukan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak.

Salah satunya adalah pos Tas Darurat. Memiliki tas darurat atau yang biasa disebut tas siaga bencana merupakan salah satu upaya pembekalan diri menghadapi bencana yang bisa datang kapan saja. Pertama-tama, kakak-kakak pendamping menjelaskan mengenai pentingnnya menyiapkan tas darurat serta konsep barang-barang yang perlu dimasukkan dalam tas tersebut. Kakak pendamping juga mengatur sebuah lemari yang berisi aneka barang-barang.

Setelah merasa anak-anak cukup paham dengan penjelasan tersebut, selanjutnya anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok diberi satu buah tas ransel. Anak-anak diminta melewati lintasan sejauh 5m dan mengambil barang-barang yang telah tersusun di dalam lemari. Barang-barang yang dipilih dimasukkan ke dalam tas tersebut. Setalah itu, kakak pendamping merefleksikan hasil pembelajaran dengan melihat dan menanyakan kepada anak-anak mengapa barang-barang tersebut dipilih untuk dimasukkan ke dalam tas darurat.

Selesai dengan pos Tas Darurat, anak-anak diarahkan untuk masuk ke pos Simulasi Ceria. Dalam pos ini, anak-anak diberikan edukasi bagaimana mengevakuasi diri dalam situasi bencana. Jika berada di lantai satu saat gempa terjadi, segera keluar gedung dan berkumpul di titik kumpul. Contoh tempat yang aman untuk dijadikan Titik Kumpul adalah lapangan yang tidak terdapat bangunan, pohon-pohon tinggi ataupun tiang-tiang listrik. Anak-anak juga diarahkan untuk jangan lupa melindungi kepala dengan menggunakan barang-barang yang bisa ditemui di sekitar kita seperti bantal, selimut tebal, buku tebal dan tas.

Kakak pendamping juga memberikan penjelasan cara evakuasi saat bencana tsunami terjadi. Mereka membawa tas darurat yang berisi barang-barang penting dan segera lari ke tempat yang tinggi, seperti bukit dan gunung. Yang terpenting jauhi pantai. Saat sudah merasa aman, kita bisa membantu keluarga, tetangga, dan teman untuk evakuasi. Pertama-tama, Kakak pendamping akan mencontohkan cara evakuasi saat terjadi bencana gempa dan tsunami. Setelah itu,anak-anak akan mempraktekkan simulasi bencana ini. Setalah melakukan simulasi, kakak pendamping mengevaluasi serta merefleksi hasil simulasi tersebut.

Saat bencana terjadi, biasanya kita akan menemui orang-orang di sekitar yang mengalami luka baik ringan maupun berat. Itulah mengapa, dalam edukasi bencana ini juga diselipkan pembelajaran mengenai prinsip memberikan pertolongan pertama pada luka pendarahan kecil dan patah tulang yang ditemui di sekitar. Barang-barang yang digunakan adalah yang mudah ditemui, namun tetap harus menjaga higienitas/kebersihan saat menolong. Setelah memberikan pertolongan pertama, anak-anak diajarkan melaporkan keadaan darurat tersebut kepada pihak yang berwenang atau orang dewasa.

Selain bencana gempa dan tsunami, kakak pendamping juga memperkenalkan cara menyiapkan pelampung darurat untuk menghadapi bencana banjir dalam pos Pelampung Darurat. Anak-anak diajarkan cara membuat pelampung dari barang bekas yang mudah ditemui di sekitar kita, dalam hal ini kita menggunakan botol bekas air mineral. Cara membuatnya juga cukup mudah. Pertama-tama kakak pendamping mencontohkan cara membuat pelampung darurat dengan mengikat empat buah botol mineral di depan dan belakang badan dengan bantuan tali plastik. Selanjutnya anak-anak diberi kesempatan untuk membuat pelampung tersebut bersama kelompoknya.

Setelah mempelajari beberapa macam simulasi, anak-anak mulai dicairkan dalam pos Putar Otak. Sesuai dengan nama posnya, disini anak-anak bermain game yang mengasah pemahaman mereka setelah mengikuti beberapa pos simulasi. Pos ini menyediakan beberapa kartu situasi yang bergambar situasi bencana dan kartu alat yang bergambar barang-barang.

Kakak pendamping akan membagikan 15 buah kartu alat kepada anak-anak, dan mengambil satu kartu situasi secara acak dan memperlihatkan kepada anak-anak. Jika kartu situasi yang diambil kakak pendamping berjudul “gempa bumi”, maka anak-anak memilih kartu alat dari 15 kartu yang disediakan. Mereka akan memilih barang-barang mana saja yang bisa kita gunakan jika gempa bumi terjadi. Setelah permainan selesai kakak pendamping mendiskusikan hasil kartu yang dipilih oleh anak-anak.

Rangkaian kegiatan ini akan ditutup dengan bernyanyi bersama dengan menggunakan lagu dan gerakan sederhana yang mudah ditiru di Pos Gita Siaga. Mengapa nyanyian? Karena musik lebih mudah diterima oleh anak-anak, baik lirik ataupun pesan yang disampaikan melalui lagu tersebut. Lirik lagu yang diperkenalkan pun berisi tentang cara melakukan evakuasi saat bencana terjadi. Diharapkan anak-anak akan mudah mengingat lirik tersebut dan dapat diterapkan jika sewaktu-waktu mereka menghadapi situasi darurat.

***

Beberapa kegiatan diatas dikemas dalam bentuk permainan dan simulasi yang menyenangkan dan disukai anak-anak. Mengapa sasarannya anak-anak? Karena dalam situasi bencana, yang paling rentan menjadi korban salah satunya adalah anak-anak. Mereka yang lebih terbuka pada hal-hal baru cenderung lebih mudah menyerap pengetahuan baru yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

Diharapkan pula dapat memberikan pengetahuan yang mereka dapatkan kepada keluarga dan kerabat dekat. Oleh sebab itu, mereka yang berusia 6-12 tahun menjadi target kegiatan ini. Kegiatan-kegiatan postif seperti ini harusnya dapat dikembangkan dan dilakukan di berbagai wilayah Indonesia untuk mencetak generasi muda tangggap bencana.

 

 

Ditulis oleh: Cut Dini Syahrini, relawan StarSide Aceh. 

Tulisan selengkapnya dapat dilihat di sini

Photo credit oleh Irmadayani Ray, Muhammad Muksin, dan Sebastian Nugroho Bayu, relawan dokumentator StarSide Aceh. 


Komentar