TENTANG KAMI

Menu

Tahukah Kamu

Indonesia adalah negara paling rawan bencana di dunia?

Latar Belakang

Menurut data UNISDR, Indonesia merupakan negara paling rawan bencana di dunia. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang berada dalam jalur ring of fire kawasan Pasifik dengan deretan gunung berapi aktif. Bahkan dari 500 gunung api di seluruh dunia, 129 di antaranya berada di Indonesia.

Sementara menurut 2009 Global Assessment Report oleh UNEP, berdasarkan perbandingan jumlah penduduk yang berisiko terkena bencana di 162 negara, Indonesia menduduki peringkat 1 untuk risiko tsunami dan tanah longsor, dan peringkat 3 untuk risiko gempa bumi.

Kita tidak bisa mengelak dari bencana.
Sebaliknya, kita perlu berdamai dengan resiko bencana ini.

Harga Sebuah Kesiapan

Mari kita belajar dari tsunami di Aceh tahun 2004 silam.

Minggu pagi, 26 Desember 2004, Aceh diguncang gempa 9,1 SR yang diikuti surutnya air laut di pesisir. Sayangnya masyarakat Aceh saat itu belum sadar akan adanya ancaman tsunami setelah gempa. Bukannya bergegas ke tempat tinggi, sebagian masyarakat di pantai justru mengambil ikan yang tertinggal saat laut surut. 30 menit setelah gempa, gelombang setinggi 12 meter melibas daratan Aceh dan Simeulue. Lebih dari 150.000 warga Aceh meninggal pagi itu.

Hal yang berbeda ditunjukkan oleh masyarakat Simeulue, salah satu pulau di lepas pantai barat Aceh. Masyarakat Simeulue turun temurun merawat ingatan mereka tentang tsunami yang pernah melanda mereka pada tahun 1904. Ingatan ini diteruskan lewat syair lagu nina bobo lokal yang disebut Smong. Seperti dititahkan dalam syair Smong, penduduk Simeulue langsung menyelamatkan diri ke tempat tinggi. Tsunami merenggut 5 korban di Simeulue, jauh di bawah jumlah korban Aceh daratan.

Ini menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi bencana dapat membuat perubahan yang signifikan dan berarti.

Pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas
merupakan salah satu upaya diseminasi informasi yang paling efektif.

StarSide

StarSide adalah komunitas relawan yang fokus pada edukasi kebencanaan untuk anak-anak.

StarSide sendiri merupakan anagram dari "Disaster". Harapannya, meskipun kita tak bisa mengelak dari ancaman dan resiko bencana di negara kita, kita selalu bisa membekali diri dengan ilmu dan kesiapsiagaan.

Kata Siapa

kita tidak bisa belajar bencana dengan seru dan menyenangkan?

Belajar Sambil Bermain

Pendidikan kebencanaan dilakukan lewat sebuah event sehari. Di dalam event tersebut, terdapat pos-pos yang masing-masing mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kebencanaan lewat permainan dan simulasi.

Konsep dasar pendidikan bencana yang digunakan diadaptasi dari Jepang dan Thailand, dengan menggunakan gamifikasi dan permainan kreatif yang seru dan menyenangkan, yang disesuaikan dengan kearifan lokal Indonesia.

target kegiatan
ANAK-ANAK

Dalam bencana, salah satu korban yang paling rentan adalah anak-anak. Oleh sebab itu, kami melihat adanya kebutuhan mendesak untuk memberikan edukasi kebencanaan kepada kalangan ini. Anak-anak yang menjadi target kegiatan ini adalah murid SD atau berumur 6-12 tahun.

Anak-anak juga dipilih karena mereka cenderung lebih berpikiran terbuka pada hal baru, lebih mudah menyerap materi, dan dalam jangka panjang, dapat turut membawa pengetahuan tersebut ke dalam keluarga mereka. Harapannya, dalam jangka panjang, anak-anak ini dapat turut menciptakan generasi dan masyarakat yang sigap bencana.

SADAR ● SIAP ● SIGAP

BENCANA

INISIATOR

StarSide digagas oleh tiga alumni dari program HANDs dari Japan Foundation
yang mempelajari edukasi bencana dan gamifikasi
di 4 negara: Indonesia, Thailand, Filipina, dan Jepang.
Eva Bachtiar

Alumni pengajar muda, pemerhati pendidikan, dan relawan berbagai kegiatan sosial.

Sakti Bimanta

Enterpreneur muda dan creative director, yang hobi berkutat di bidang desain.

Ibnu Mundzir

Peneliti, pemerhati, dan praktisi yang telah 20 tahun menekuni bidang kebencanaan.